Kamis, 19 Januari 2012

SAHABAT YANG MEMBERIKU SAYAP

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم


“Sampai aku mati, tetaplah disampingku ….” rasanya itu adalah pernyataan paling ekstrim seumur hidupku. Kalimat yang sekitar 6 tahun lalu kuucapkan ditengah semangat yang mendekati keputusasaan.

Menyusuri kembali peristiwa 6 tahun lalu yang lalu. Sebuah permata yang akan selalu aku simpan baik-baik dalam relung hatiku. Jika ada sahabat yang melebihi kerabat. Hanya satu orang yang bisa kupercaya dalam segalanya. Ia yang menjelma layaknya malaikat pembawa cahaya. Ukhty As…

***
Namanya Astutik, tetapi semua teman memanggilnya Mama As, hal itu bukannya tanpa alasan. Sosoknya yang pendiam, keibuan plus telaten membuat semua sepakat memanggilnya demikian. Sampai sekarang pun aku tidak mengenal lebih dalam sosok satu ini. Karena pertemuan kami hanyalah sekejap saja. Setidaknya itulah yang kurasakan. Padahal kami 2 tahun tinggal bersama dalam satu atap, dormitory Blok P2-2-1 Yellow Face Batamindo. Kesibukan dalam pekerjaan, shift yang tidak berbarengan, waktu yang tersita oleh lemburan menjadikan komunikasi sulit terjalin. Sampai saat ini malu selalu menyeruak dalam hatiku ketika memoar ini berjalan kembali ke masa itu. Saat tersulit dalam ujian hidupku.

***
“Anda lumpuh …” hanya kalimat itulah yang bisa kutangkap. Setelahnya aku tidak bisa mencerna kalimat yang diucapkan dokter yang sore itu memeriksaku. Tidak ada air mata yang keluar ketika perawat membawaku ke sebuah kamar yang serba putih. Setelah dibaringkan, kucoba memejamkan mata. Berharap semua ini hanya mimpi, yang jika aku bangun nanti semua akan normal seperti biasanya. Tetapi saat tengah malam kuterjaga, sesuatu yang tidak pernah aku bayangkan seumur hidupku kini menyertaiku. Sial! Kenapa kedua kakiku tidak bisa aku rasakan. Kucoba memukul-mukulinya dengan baki yang ada di atas meja sebelah kanan tempat tidurku, pasti kalau dipukul keras akan terasa sakitnya. Tetapi dicoba beberapa kalipun tetap tidak terasa.


Kucoba bangkit. Ahhh, dibagian tengah punggungku terasa sakit sekali. Sambil tidur tetap kucoba memukuli kakiku, berharap ada rasa sakit yang kurasakan. Hingga dua orang perawat datang tergesa lalu memegang kedua tanganku, mencegahku melakukan perbuatan yang mereka anggap gila!

***

Sayup-sayup kudengar suara orang membaca surat Ar-Rahman, membangunkanku dari tidur yang dipaksa (yang kuingat, aku merasa gelap setelah perawat itu mensutikkan sesuatu di tanganku). Ketika kubuka mata, seulas senyum menyapa. Mama As … Kuisyaratkan agar ia menghatamkan bacaan Ar-Rahman itu. Agak lama ia menyelesaikan bacaannya. Memang jauh dari lantunan merdu, sesekali ia mengulangi untuk membetulkan tajwidnya. Aku tidak tahu bagaimana ia bisa tahu aku dirawat disini, mungkin saja kakakku yang menghubunginya.
Apa dia tidak bekerja, atau mungkin masuk shift malam hingga siang begini menjengukku. Aku hanya memandanginya dalam diam, lebih tepatnya ingin mengacuhkannya. Aku tidak ingin dikasihani dan tidak ingin membuat repot orang lain dengan keadaanku, jika aku mendiamkannya pasti dia tidak betah dan akan pergi. Begitulah yang ada dalam pikiranku saat itu.

Tiga hari berlalu, dia tetap setia menjengukku. Lebih tepatnya merawatku. Jika di pagi hari mbak Lala, kakakku yang merawat. Maka sore sampai subuh Mama As yang menjaga. Tengah malam saat aku terjaga (sejak dirawat di rumah sakit, tengah malam aku selalu terjaga sampai pagi), dia tiba-tiba menangis dan memelukku erat.

“Mungkin aku bukan teman yang bisa kau andalkan disaat seperti ini, tetapi setidaknya, jika tidak bisa tersenyum seperti biasanya, tolong bicaralah, atau setidaknya menangislah Deb… Jangan diam seperti ini …” Kata-kata yang tidak pernah terucap dari kakakku sendiri, keluar dari mulutya. Dipeluk seperti itu membuatku meleleh, pertahananku ambruk. Entah kenapa air mata tidak bisa berhenti keluar. Segala yang ada dihatiku kutumpahkan.

“Apakah Alloh tidak sayang padaku … apa salah aku mbak, hingga Alloh mencabut nikmat berjalanku. Tiba-tiba saja, tidak bisa berjalan begini. Dosa besar apa yang aku perbuat, hingga ujian seperti ini menghampiri. Apa DIA mau menguji keimananku?? Bagaimana bisa, jika sujud saja aku tidak mampu! Padahal seharusnya DIA tahu, bahwa saat sujudlah kenikmatan terbesarku! Lalu, bagaimana pula aku harus menemui ibukku. Jika sebulan lagi, saat pulang ke Jawa mendapati anaknya cacat. Lumpuh!!”

“Aku … aku ingin bisa berjalan lagi. Tidak, aku harus bisa berjalan lagi! Aku tidak ingin lumpuh … Aku tidak mau seumur hidup cacat!! Aku harus gimana … harus gimana mbak …” aku menangis sejadi-jadinya. Tidak bisa kuingat wajah Mama As saat itu, yang kurasakan ia menggenggam erat tanganku.

***
Seminggu tepat aku dirawat, hari itu aku baru saja berkenalan dengan satu-satunya teman sekamarku. Dari obrolan kami, dia menderita leukimia. Nasib kami tidak jauh berbeda. Sama-sama anak perantauan, jauh dari keluarga. Hanya seorang kakak yang menjadi sandaran. Bedanya tidak pernah kulihat seorang pun teman menungguinya, layaknya yang dilakukan Mama As. Sampai sekarang Mama As masih setia merawatku. Keberuntungan, rahmat besar yang tidak pernah kusadari seminggu ini.

“Mama As nggak capek?” malam itu aku bertanya padanya. Seperti biasanya ia hanya tersenyum. Khas Mama As, tidak banyak bicara. “Kenapa mau repot-repot ngerawat aku?, padahal mbakku aja nggak berani jaga malam begini di rumah sakit. Persendiannya langsung lemas jika ada di rumah sakit malam hari, bisa-bisa jadi pasien juga bila dipaksa…” kucoba mengorek jawaban darinya. Mata kami saling berpandangan, lama.

“Hmm, kenapa yaa…” Dia menggantung kalimatnya. Lalu pelan-pelan berjalan menuju ke arah jendela yang ada di sebalah kiri ranjangku. Sambil menatap keluar yang gelap dia bertutur. “Karena Debbi sahabatku yang berharga. Mungkin kamu gak pernah mengingatnya, dulu masa-masa awal tinggal sedormitory hanya kamu yang tersenyum dan mau bicara padaku. Jika semua teman-teman jenuh dengan sifatku yang pendiam, kamu tidak! Selama ini aku sulit mendapat teman karena sifat diamku ini, tetapi sepertinya kamu mau menerima kekuranganku. Dan yang paling membuatku bahagia, karena kamu … mengenalkanku pada Alloh, hal yang selama ini kurasakan paling jauh dariku. Metamorfosis tertutupinya aurat ini, adalah hal yang tidak pernah terpikirkan dalam hidup sebelum aku mengenalmu…” Entah mengapa dadaku malah sesak mendengarkan tuturnya yang seharusnya membuatku senang. Sebaik itukah diriku dimatanya, padahal …

“Jika mau jujur … Mama As bodoh sekali!” punggungnya yang membelakangiku langsung berbalik saat mendengar kalimatku tadi. “Aku nggak sebaik itu … aku menyapamu, ngobrol, itu hanyalah semata-mata tugasku sebagai leader room. Jika ada hidayah yang Alloh berikan padamu, bukankah itu karena usahamu sendiri. Aku hanya meminjamimu buku-bukuku, selebihnya pencarian itu kau lakukan sendiri. Aku juga sama seperti teman serumah, mengolok-olok sifatmu itu di belakangmu. Menertawakan tingkah canggungmu. Apa kamu senaif itu, selalu memandang sikap orang dari kacamata pergaulanmu yang tidak luas? Lalu jika perlakuanmu saat ini adalah rasa balas budi atas apa yang kulakukan, itu tidak sebanding bukan…” Dia menatapku lama, sebuah senyuman yang terpaksa berusaha disunggingkan. Tapi aku menangkap ada bening yang menggenang di pelupuk matanya.

“Aku sholat lail dulu …” pamitnya bergegas. Rasanya kata-kataku keterlaluan, tetapi itu kenyataan. Aku tidak ingin memanfaatkan keluguannya itu. Mungkin dia akan marah, dan tidak akan mau lagi menemaniku di ruang yang penuh bau obat ini. Tetapi itu lebih baik, daripada aku membohonginya.

Tidak lebih dari 15 menit aku sendiri, tiba-tiba di ruang sebelahku terjadi keramaian. Dari kaca kecil di pintu kamar, dapat kulihat dokter dan perawat berlalu-lalang. Banyak orang berkerumun, dan tidak berselang lama kemudian terdengar jerit pilu wanita memecah keheningan malam. Matikah pasien diruang sebelah, sepertinya iya. Satu hal yang luput dari kekhawatiranku, kematian. Seketika pikiranku kalut, tidak terbayang jika hal itu terjadi padaku. Aku, belum siap mati!

Esoknya, kejadian yang lebih mengguncang mentalku terjadi. Giliran teman sekamarku yang meninggal. Tidak bisa kupercaya, padahal malam hari kemarin dia begitu sehat. Seharusnya dia pulang hari ini, karena dokter sudah mengijinkannya kemarin. Baru kali ini kulihat, berat dan sakitnya sakaratul maut. Kulihat perutnya yang tiba-tiba membuncit, tenggorokannya yang tercekat, merasakan sakit yang luar biasa. Setelah itu, aku tidak bisa melihatnya. Karena perawat buru-buru memindahkanku ke ruang lain, naasnya ruang baruku adalah ruang yang ditempati pasien yang dini hari tadi meninggal. Yang membuatku yakin bahwa teman sekamarku telah tiada, adalah suara lengking teriakan kakaknya yang menusuk pori-pori tubuhku. Saat itu kakakku sendiri juga ketakutan, terlihat jelas kakinya gemetaran dan keringat keluar dari wajahnya. Pucat! Ketegarankulah yang biasanya menenangkannya, tetapi saat itu jiwaku lebih terguncang dari dirinya. Kami hanya bisa diam dalam kemelut pikiran masing-masing.

***
Malamnya, ternyata Mama As datang. Hal yang membuatku terkejut sekaligus tenang, mengingat perkataanku yang pedas kemarin. Ia mungkin sudah tau kenapa aku pindah ruang, karena ia tidak bertanya apapun padaku malam itu. Sikapnya biasa saja, sama seperti sebelumnya. Merawatku dalam diam, sesekali bertanya apa aku butuh sesuatu.

“Sampai aku mati, tetaplah disampingku ….” kupegang erat lengannya, ketika kudapati diri terjaga dari mimpi buruk saat itu. Ia kaget sekali. Aku tiba-tiba menangis tersedu-sedu. Rasanya seluruh film hidupku diputar kembali, sialnya hanya keburukan-keburukan yang mampu kuingat. Tidak ada sedikitpun aku merasa pernah berbuat kebaikan. Lalu jika aku mati … Alloh ….

“Aku mungkin tidak bisa menjadi temanmu lagi ….” aku sudah memperkirakan itu, tapi sungguh hatiku terkejut sekali mendengar kalimat itu keluar dari mulut Mama As. Aku berusaha tersenyum, tapi malah isakku semakin menjadi. “Iya … gak pa-pa, aku mengerti …” Aku harus membesarkan hatiku sendiri.
“Maaf, aku tidak ingin jadi temanmu lagi. Karena sekarang, aku ingin jadi saudarimu ukhty …” ia berkata lembut sambil berlinang air mata.  Tak tertahankan lagi, kami berpelukan. Lama sekali.  

“Ya Alloh …. Fabiayyiaalaairobbikumaatukaddibaan”, berkali-kali ayat itu menggema dalam hatiku. Alloh …. aku tidak akan pernah lagi menghujat takdir dan nasibku, keadilan yang sempat kuragukan. Karena dibalik satu ujian-MU, ada beribu-ribu rahmat yang KAU berikan padaku.

***
Hasil pemeriksaan keluar, sebuah titik terang disampaikan oleh dokter pagi itu. 4 hari sebelum aku dirawat genap 2 minggu. Ada kemungkinan 25% aku bisa berjalan normal kembali, tergantung semangat dan usaha (dan kutambahkan sendiri, doa) dariku sendiri serta dukungan orang-orang terdekatku. Tapi mengingat kondisi biaya yang tidak sedikit, akhirnya aku memutuskan ingin keluar rumah sakit. Awalnya kakakku keberatan, tetapi setelah aku jelaskan dan kubujuk selama 2 hari ia menyetujuinya. Dokter pun tidak bisa mencegah. Dengan catatan harus tetap rawat jalan, jika ingin sembuh.

Kepulanganku kembali ke dormitory disambut meriah oleh orang serumah, hal yang sangat menghangatkan hatiku. Sambil menghitung mundur waktu kontrak kerja habis, semua bahu membahu menemaniku dan memberi semangat untuk sembuh. Silih berganti teman sepabrik menjenguk di dormitory. Bahkan orang yang tidak kukenalpun juga datang. Sungguh, obat yang paling mujarab. Yaitu dorongan semangat yang ditransfer kepadaku untuk berjuang dan bangkit dari keputusasaan. Rasanya masih ingin tertawa, jika mengingat tumpukan oleh-oleh yang memenuhi kamar. Karena saat perpisahan, akhirnya dibagi-bagikan lagi agar tidak mubadzir, sampai-sampai bingung mau diberikan pada siapa lagi karena begitu banyaknya.

Tentu saja yang paling repot adalah Mama As. Dia benar-benar menjadi pengganti ibukku. Semua keperluanku diurusinya bersama kakakku. 3 minggu ia mengambil cuti yang tidak pernah diambilnya selama 2 tahun, hanya untuk merawatku. Padahal di sisi lain, teman-teman berlomba-lomba mengejar lemburan untuk tambahan uang saku pulang kampung. Pengorbanan yang terlalu besar untuk diriku ini.

Mungkin tanpa transfer semangat dari para sahabat, aku tidak akan pernah merasakan mukjizat. Perkembanganku dalam sebulan begitu pesat. Dokter saja sampai takjub. Walau saat hari terakhirku di pulau Batam, aku masih belum bisa berjalan. Hanya mampu berdiri tegak menopang tubuh, berjalan satu-dua langkah. Tapi itu adalah  hal yang sangat aku syukuri. Dengan selamat mereka bersusah payah mengantarkanku sampai kepelukan keluargaku.

Yang aku sesali sampai sekarang adalah aku tidak mempunyai satupun alamat para sahabatku di perantauan, karena buku alamatku hilang entah dimana. Ingin rasanya, sedapat mungkin aku mengunjungi mereka satu per satu. Mengabarkan keadaanku sekarang ini yang telah pulih, normal seperti sediakala. Membagi kebahagiaanku kepada mereka, para malaikat pembawa cahaya saat jalan hidupku terasa gelap gulita.

Tapi kuyakin, bahwa Alloh menyampaikan asaku dalam doa-doa kudusku. Selalu ada cinta juga doa untuk mereka. Karena merekalah yang telah memberiku sebelah sayap, semangat tulus dalam doa dan harap. Saat itu, saat tersulit dalam ujian hidupku. Hingga aku bisa lagi tegar berdiri, diatas kedua kakiku.


Sumber : http://www.oaseimani.com/sahabat-yang-memberiku-sayap.html


GADIS KECIL BERHATI SAMUDERA ( Kisah Nyata)

Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh..

Ini adalah kisah nyata; Yu Yuan, gadis kecil berhati mulia yang berjuang hidup dari leukimia ganas, yang rela melepaskan segala-galanya dan menyumbang untuk anak-anak lain yang masih punya harapan. Bacalah dengan hati nurani akan ada ketakjuban di sana.

Kisah tentang seorang gadis kecil cantik yang memiliki sepasang bola mata yang indah dan hati yang lugu polos. Dia adalah seorang yatim piatu dan hanya sempat hidup di dunia ini selama delapan tahun. Satu kalimat terakhir yang ia tinggalkan di batu nisannya adalah saya pernah datang dan saya sangat penurut. Anak ini rela melepaskan pengobatan, padahal sebelumnya dia telah memiliki dana pengobatan sebanyak 540.000 dolar yang didapat dari perkumpulan orang Tionghua di seluruh dunia. Dana tersebut dibagikan kepada tujuh anak kecil yang juga sedang berjuang menghadapi kematian.

Begitu lahir dia sudah tidak mengetahui siapa orangtua kandungnya. Dia hanya memiliki seorang papa yang mengadopsinya. Papanya berumur 30 tahun yang bertempat tinggal di provinsi She Cuan kecamatan Suang Liu, kota Sang Xin Zhen Yun Ya Chun Er Cu. Karena miskin, maka selama ini ia tidak menemukan pasangan hidupnya. Kalau masih harus mengadopsi anak kecil ini, mungkin tidak ada lagi orang yang mau dilamar olehnya. Pada tanggal 30 November 1996, tanggal 20 bulan 10 imlek, adalah saat dimana papanya menemukan anak kecil tersebut diatas hamparan rumput, disanalah papanya menemukan seorang bayi kecil yang sedang kedinginan. Pada saat menemukan anak ini, di dadanya terdapat selembar kartu kecil tertulis, “20 November jam 12″.

Melihat anak kecil ini menangis dengan suara tangisannya sudah mulai melemah. Papanya berpikir kalau tidak ada orang yang memperhatikannya, maka kapan saja bayi ini bisa meninggal. Dengan berat hati papanya memeluk bayi tersebut, dengan menghela nafas dan berkata, “saya makan apa, maka kamu juga ikut apa yang saya makan”. Kemudian papanya memberikan dia nama Yu Yuan.

Ini adalah kisah seorang pemuda yang belum menikah yang membesarkan seorang anak, tidak ada Asi dan juga tidak mampu membeli susu bubuk, hanya mampu memberi makan bayi tersebut dengan air tajin (air beras). Karena itu, dari kecil anak ini tumbuh menjadi lemah dan sakit-sakitan. Tetapi, anak ini sangat penurut dan sangat patuh. Musim silih berganti, Yu Yuan pun tumbuh dan bertambah besar serta memiliki kepintaran yang luar biasa. Para tetangga sering memuji Yu Yuan sangat pintar dan mereka sangat menyukai Yu Yuan.

Di tengah ketakutan dan kecemasan papanya, Yu Yuan pelan-pelan tumbuh dewasa. Yu Yuan yang hidup dalam kesusahan memang luar biasa. Mulai dari umur lima tahun, dia sudah membantu papa mengerjakan pekerjaan rumah: mencuci baju, memasak nasi, dan memotong rumput. Setiap hal dia kerjakan dengan baik. Dia sadar dia berbeda dengan anak-anak lain. Anak-anak lain memiliki sepasang orang tua, sedangkan dia hanya memiliki seorang papa. Keluarga ini hanya mengandalkan dia dan papa yang saling menopang. Dia harus menjadi seorang anak yang penurut dan tidak boleh membuat papa menjadi sedih dan marah. Pada saat dia masuk sekolah dasar, dia sendiri sudah sangat mengerti, harus giat belajar dan menjadi juara di sekolah. Inilah yang bisa membuat papanya yang tidak berpendidikan menjadi bangga di desanya. Dia tidak pernah mengecewakan papanya, dia pun bernyanyi untuk papanya. Setiap hal yang lucu yang terjadi di sekolahnya diceritakan kepada papanya. Kadang-kadang dia bisa nakal dengan mengeluarkan soal-soal yang susah untuk menguji papanya. Setiap kali melihat senyuman papanya, dia merasa puas dan bahagia. Walaupun tidak seperti anak-anak lain yang memiliki mama, tetapi bisa hidup bahagia dengan papa, ia sudah sangat berbahagia. Mulai dari bulan Mei 2005 Yu Yuan mulai mengalami mimisan.

Pada suatu pagi saat Yu Yuan sedang mencuci muka, ia menyadari bahwa air cuci mukanya sudah penuh dengan darah yang ternyata berasal dari hidungnya. Dengan berbagai cara, ia tidak bisa menghentikan pendarahan tersebut, sehingga papanya membawa Yu Yuan ke puskesmas desa untuk disuntik. Tetapi sayangnya dari bekas suntikan itu juga mengerluarkan darah dan tidak mau berhenti. Di pahanya mulai bermunculan bintik-bintik merah. Dokter tersebut menyarankan papanya untuk membawa Yu Yuan ke rumah sakit untuk diperiksa. Begitu tiba di rumah sakit, Yu Yuan tidak mendapatkan nomor karena antrian sudah panjang. Yu Yuan hanya bisa duduk sendiri di kursi yang panjang untuk menutupi hidungnya. Darah yang keluar dari hidungnya bagaikan air yang terus mengalir dan memerahi lantai. Karena papanya merasa tidak enak, kemudian mengambil sebuah baskom kecil untuk menampung darah yang keluar dari hidung Yu Yuan. Tidak sampai sepuluh menit, baskom yang kecil tersebut sudah penuh berisi darah yang keluar dari hidung Yu Yuan.

Dokter yang melihat keadaaan ini cepat-cepat membawa Yu Yuan untuk diperiksa. Setelah diperiksa, dokter menyatakan bahwa Yu Yuan terkena leukimia ganas. Pengobatan penyakit tersebut sangat mahal yang memerlukan biaya sebesar 300.000$. Papanya mulai cemas melihat anaknya yang terbaring lemah di ranjang. Papanya hanya memiliki satu niat, yaitu menyelamatkan anaknya. Dengan berbagai cara meminjam uang ke sanak saudara dan teman, tetapi uang yang terkumpul sangatlah sedikit. Papanya akhirnya mengambil keputusan untuk menjual rumahnya yang merupakan harta satu-satunya. Tapi karena rumahnya terlalu kumuh, dalam waktu yang singkat tidak bisa menemukan seorang pembeli. Melihat mata papanya yang sedih dan pipi yang kian hari kian kurus, dalam hati Yu Yuan merasa sedih.

Pada suatu hari Yu Yuan menarik tangan papanya, air mata pun mengalir di kala kata-kata belum sempat terlontar. “Papa saya ingin mati”. Papanya dengan pandangan yang kaget melihat Yu Yuan, “Kamu baru berumur 8 tahun, kenapa mau mati?”. “Saya adalah anak yang dipungut, semua orang berkata nyawa saya tak berharga, tidaklah cocok dengan penyakit ini, biarlah saya keluar dari rumah sakit ini.”

Pada tanggal 18 Juni, Yu Yuan mewakili papanya yang tidak mengenal huruf, menandatangani surat keterangan pelepasan perawatan. Anak yang berumur delapan tahun itu pun mengatur segala sesuatu yang berhubungan dengan pemakamannya sendiri. Hari itu juga setelah pulang ke rumah, Yu Yuan yang sejak kecil tidak pernah memiliki permintaan, meminta dua permohonan kepada papanya. Dia ingin memakai baju baru dan berfoto. Yu Yuan berkata kepada papanya, “Setelah saya tidak ada, kalau papa merindukan saya lihatlah foto ini”.

Hari kedua, papanya menyuruh bibi menemani Yu Yuan pergi ke kota dan membeli baju baru. Yu Yuan sendirilah yang memilih baju yang dibelinya. Bibinya memilihkan satu rok yang berwarna putih dengan corak bintik-bintik merah. Kemudian mereka bertiga tiba di sebuah studio foto. Yu Yuan kemudian memakai baju barunya dengan pose secantik mungkin dan berjuang untuk tersenyum. Bagaimanapun ia berusaha tersenyum, pada akhirnya juga tidak bisa menahan air matanya yang mengalir keluar. Kalau bukan karena seorang wartawan Chuan Yuan yang bekerja di surat kabar Cheng Du Wan Bao, Yu Yuan akan seperti selembar daun yang lepas dari pohon dan hilang ditiup angin. Setelah mengetahui keadaan Yu Yuan dari rumah sakit, Chuan Yuan kemudian menuliskan sebuah laporan, menceritakan kisah Yu Yuan secara detail.

Cerita tentang anak yang berumur 8 tahun yang mengatur pemakamaannya sendiri akhirnya menyebar ke seluruh kota Rong Cheng. Banyak orang-orang yang tergugah oleh seorang anak kecil yang sakit ini, dari ibu kota sampai satu negara bahkan sampai ke seluruh dunia. Mereka mengirim e-mail ke seluruh dunia untuk menggalang dana bagi anak ini. Hanya dalam waktu sepuluh hari, dari perkumpulan orang Tionghoa di dunia saja telah mengumpulkan 560.000 dolar. Biaya operasi pun telah tercukupi. Setelah itu, pengumuman penggalangan dana dihentikan, tetapi dana terus mengalir dari seluruh dunia. Dana pun telah tersedia dan para dokter sudah siap untuk mengobati Yu Yuan. Satu demi satu gerbang kesulitan pengobatan juga telah dilewati. Semua orang menunggu hari suksesnya Yu Yuan. Ada seorang teman di-email bahkan menulis, “Yu Yuan anakku yang tercinta saya mengharapkan kesembuhanmu dan keluar dari rumah sakit. Saya mendoakanmu cepat kembali ke sekolah. Saya mendambakanmu bisa tumbuh besar dan sehat. Yu Yuan anakku tercinta.”
Pada tanggal 21 Juni, Yu Yuan yang telah melepaskan pengobatan dan menunggu kematian akhirnya dibawa kembali ke ibu kota. Dana yang sudah terkumpul, membuat jiwa yang lemah ini memiliki harapan dan alasan untuk terus bertahan hidup. Yu Yuan akhirnya menerima pengobatan dan dia sangat menderita di dalam sebuah pintu kaca tempat dia berobat. Yu Yuan kemudian berbaring di ranjang untuk diinfus. Ketegaran anak kecil ini membuat semua orang kagum padanya. Dokter yang menangani dia, Shii Min berkata bahwa dalam perjalanan proses terapi akan mendatangkan mual yang sangat hebat. Pada permulaan terapi Yu Yuan sering sekali muntah. Tetapi Yu Yuan tidak pernah mengeluh. Pada saat pertama kali melakukan pemeriksaan sumsum tulang belakang, jarum suntik ditusukkan dari depan dadanya, tetapi Yu Yuan tidak menangis dan juga tidak berteriak, bahkan tidak meneteskan air mata. Pada saat dokter Shii Min menawarkan Yu Yuan untuk menjadi anak perermpuannya, air mata Yu Yuan pun mengalir tak terbendung. Hari kedua saat dokter Shii Min datang, Yu Yuan dengan malu-malu memanggil dengan sebutan Shii Mama.

Pertama kalinya mendengar suara itu, Shii Min kaget, kemudian dengan tersenyum menjawab, “Anak yang baik”. Semua orang mendambakan sebuah keajaiban dan menunggu momen dimana Yu Yuan hidup dan sembuh kembali. Banyak masyarakat datang untuk menjenguk Yu Yuan dan banyak orang menanyakan kabar Yu Yuan dari e-mail.
Selama dua bulan Yu Yuan melakukan terapi dan telah berjuang menerobos sembilan pintu maut. Pernah mengalami pendarahan di pencernaan dan selalu selamat dari bencana. Sampai akhirnya darah putih dari tubuh Yu Yuan sudah bisa terkontrol. Semua orang pun menunggu kabar baik dari kesembuhan Yu Yuan. Tetapi efek samping yang dikeluarkan oleh obat-obat terapi sangatlah menakutkan, apalagi dibandingkan dengan anak-anak leukemia yang lain. Fisik Yu Yuan jauh sangat lemah. Setelah melewati operasi tersebut fisik Yu Yuan semakin lemah.

Pada tanggal 20 Agustus Yu Yuan bertanya kepada wartawan Fu Yuan, “Tante, kenapa mereka mau menyumbang dana untuk saya? Wartawan tersebut menjawab, “Karena mereka semua adalah orang yang baik hati”. Yu Yuan kemudian berkata, “Tante saya juga mau menjadi orang yang baik hati”. Wartawan itu lalu menjawab, “Kamu memang orang yang baik. Orang baik harus saling membantu agar bisa berubah menjadi semakin baik.” Yu Yuan dari bawah bantal tidurnya mengambil sebuah buku, dan diberikan kepada ke Fu Yuan. “Tante ini adalah surat wasiat saya.”

Fu yuan kaget, sekali membuka dan melihat surat tersebut ternyata Yu Yuan telah mengatur tentang pemakamannya sendiri. Ini adalah seorang anak yang berumur delapan tahun yang sedang menghadapi sebuah kematian dan di atas ranjang menulis tiga halaman surat wasiat dan dibagi menjadi enam bagian, dengan pembukaan, “Tante Fu Yuan”, dan diakhiri dengan, “Selamat tinggal Tante Fu Yuan.”

Dalam satu artikel itu nama Fu Yuan muncul tujuh kali dan masih ada sembilan sebutan singkat tante wartawan. Di belakang ada enam belas sebutan dan ini adalah kata setelah Yu Yuan meninggal. Tolong… dan dia juga ingin menyatakan terima kasih serta selamat tinggal kepada orang- orang yang selama ini telah memperhatikan dia lewat surat kabar, “Sampai jumpa tante, kita berjumpa lagi dalam mimpi. Tolong jaga papa saya. Sedikit dari dana pengobatan ini bisa dibagikan kepada sekolah saya dan katakan ini juga pada pemimpin palang merah. Setelah saya meninggal, biaya pengobatan itu dibagikan kepada orang-orang yang sakit seperti saya, biar mereka lekas sembuh.”  Surat wasiat ini membuat Fu Yuan tidak bisa menahan tangis yang membasahi pipinya. “Saya pernah datang, saya sangat patuh,” demikianlah kata-kata yang keluar dari bibir Yu Yuan.

Pada tanggal 22 agustus, karena pendarahan di pencernaan hampir satu bulan, Yu Yuan tidak bisa makan dan hanya bisa mengandalkan infus untuk bertahan hidup. Mula-mulanya berusaha mencuri makan, Yu Yuan mengambil mie instan dan memakannya. Hal ini membuat pendarahan di pencernaan Yu Yuan semakin parah. Dokter dan perawat pun secepatnya memberikan pertolongan darurat dan memberi infus dan transfer darah setelah melihat pendarahan Yu Yuan yang sangat hebat. Dokter dan para perawat pun ikut menangis. Semua orang ingin membantu meringankan pederitaannya. Tetapi tetap tidak bisa membantunya. Yu Yuan yang telah menderita karena penyakit tersebut akhirnya meninggal dunia. Semua orang tidak bisa menerima kenyataan gadis kecil yang cantik lagi suci yang berhati mulia. Ia telah pergi ke dunia lain. Di kecamatan She Chuan, sebuah email pun dipenuhi tangisan menghantar kepergian Yu Yuan. Banyak yang mengirimkan ucapan turut berduka cita dengan karangan bunga yang ditumpuk setinggi gunung. Ada seorang pemuda berkata dengan pelan “Anak kecil, kamu sebenarnya adalah ‘malaikat kecil’ di atas langit, kepakkanlah kedua sayapmu. Terbanglah…. ”

Pada tanggal 26 Agustus, pemakaman Yu Yuan dilaksanakan saat hujan gerimis. Di depan rumah duka, banyak orang-orang berdiri dan menangis mengantar kepergian Yu Yuan. Mereka adalah papa mama Yu Yuan yang tidak dikenal oleh Yu Yuan semasa hidupnya. Demi Yu Yuan yang menderita karena leukemia dan melepaskan pengobatan demi orang lain, maka datanglah papa mama dari berbagai daerah yang diam-diam mengantarkan kepergian Yu Yuan. Di depan makamnya terdapat selembar foto Yu Yuan yang sedang tertawa. Di atas batu nisannya tertulis, “Aku pernah datang dan aku sangat patuh” (30 Nov 1996 – 22 Agust 2005). Di belakangnya terukir perjalanan singkat riwayat hidup Yu Yuan. Sesuai pesan dari Yu Yuan, sisa dana 540.000 dolar tersebut disumbangkan kepada anak-anak penderita luekimia lainnya. Tujuh anak yang menerima bantuan dana Yu Yuan itu adalah : Shii Li, Huang Zhi Qiang, Liu Ling Lu, Zhang Yu Jie, Gao Jian, Wang Jie. Tujuh anak kecil yang kasihan ini semua berasal dari keluarga tidak mampu. Mereka adalah anak-anak miskin yang berjuang melawan kematian. Pada tanggal 24 September, anak pertama yang menerima bantuan dari Yu Yuan di Rumah Sakit Hua Xi berhasil melakukan operasi. Senyuman yang mengambang pun terlukis di raut wajah anak tersebut. “Saya telah menerima bantuan dari kehidupanmu, terima kasih adik Yu Yuan kamu pasti sedang melihat kami di atas sana. Jangan risau, kelak di batu nisan, kami juga akan mengukirnya dengan kata-kata “Aku pernah datang dan aku sangat patuh”.

Demikianlah sebuah kisah yang sangat menggugah hati kita. Seorang anak kecil yang berjuang bertahan hidup dan akhirnya harus menghadapi kematian akibat sakit yang dideritanya. Dengan kepolosan dan ketulusan serta baktinya kepada orangtuanya, akhirnya mendapatkan respon yang luar biasa dari kalangan dunia. Walaupun hidup serba kekurangan, dia bisa memberikan kasihnya terhadap sesama.

Ini contoh bagi kita untuk mampu melakukan hal yang sama, berbuat sesuatu yang bermakna bagi sesama, dan memberikan sedikit kehangatan dan perhatian kepada orang yang membutuhkan. Pribadi dan hati seperti inilah yang dinamakan pribadi seorang Pengasih.

Sumber : http://www.oaseimani.com/yuyuan-gadis-berhati-samudera.html

Ada satu kepastian diantara ketidakpastian dalam kehidupan manusia, secara sadar atau tidak, manusia sesungguhnya menuju kepada-Nya. Tidak perduli apakah ia siap atau tidak, tua atau muda, cepat atau lambat. Bagi sebagian manusia, ia hanyalah proses alamiah dalam sebuah kehidupan. Menjadi akhir peristirahatan dari segala kegalauan. Bagi sebagian lain ia adalah awal dari sebuah kehidupan. Itulah "KEMATIAN". Pokoknya, setiap yang berjiwa baik itu manusia, hewan, tumbuhan dan lain sebagainya akan merasakan mati, sebagaimana yang difirmankan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala,“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati...” (Ali Imaran ayat 185). Di lain ayat,  Allah menerangkan bahwa kematian itu terjadi atas izin-Nya sebagai sebuah ketetapan yang telah ditentukan waktunya, sebagaimana firman-Nya, “Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya...” (Ali Imran ayat 145)


Ibarat sebuah sungai, muaranya merupakan merupakan pintu gerbang samudra. Begitu pula dengan kematian, ia adalah muara bagi pintu gerbang samudra kehidupan yang luas dan kekal.

Sesungguhnya manusia telah memilih bagaimana akhir kehidupannya. Dan pilihan itu ada pada bagaimana ia menjalani kehidupannya. Sebagaimana ia menjalani kehidupannya seperti itulah kemungkinan besar ia akan menghadapi kematiannya. Karena sesungguhnya dengan menjalani kehidupan berarti kita sedang berjalan menuju kematian kita. Katakanlah sesungguhnya kematian yang kamu semua melarikan diri darinya itu, pasti akan menemui kamu, “kemudian kamu semua akan dikembalikan ke Dzat yang Maha Mengetahui segala yang ghaib serta yang nyata”’ ( Jum’ah ayat 8). Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Di manapun kamu berada, kematian akan mendapatkanmu, meskipun kamu berada dalam benteng yang tinggi lagi kokoh” (An-Nisa ayat 78).

Kematian adalah sesuatu yang pasti akan terjadi dan akan menima kepada setiap yang berjiwa. Yang jadi masalah adalah tidak ada yang tahu kapan kematian itu akan menimpa,  Rasulullah sendiri pun tidak diberitahu oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tinggal bagaimana diri kita dalam mempersiapkan diri ini untuk menghadapi kematian yang akan mendatangi kita. ”Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah sebenar-benar taqwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam”. (Ali Imran ayat 102).

Kita umat manusia sesungguhnya diciptakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala hanya untuk mengabdi atau beribadah saja. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku” (Adz-Dzariyaat ayat 56). Ayat ini menunjukkan bahwa kita umat manusia sesungguhnya diciptakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala hanya untuk mengabdi atau beribadah saja. Namun kebanyakan manusia menjadi lengah, teledor dan bahkan ada yang sengaja melupakan kewajiban beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Orang-orang yang berfikir secara kerdil dan menjatuhkan diri kepada keduniawian akan berlari dengan segala kemampuan yang ada dari kematian. Kematian merupakan momok yang menakutkan yang akan mengambil segala yang telah diusahakan selama hidupnya. Padahal jauh berabad-abad dahulu Rosulullah telah mengingatkan, “Perbanyaklah mengingat-ingat sesuatu yang melenyapkan segala macam kelezatan (kematian)”. (HR. Tirmidzi). Pada jaman sekarang ini, manusia kebanyakan berlomba-lomba dalam kemegahan, menumpuk-numpuk harta, mereka tidak akan merasa puas, kecuali maut datang menjemputnya sebagaimana disitir dalam firman Allah : “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur” (Al-Takaatsur ayat 1-2). Ingatlah, kita semua akan mati, dikubur dan di dalam kubur bila amal kita baik selama di dunia, kita akan mendapat kenikmatan. Namun, jika kita termasuk golongan kaum yang mungkar, fasik, menafik maka siksa kubur sangat dahsyat. Sementara manusia-manusia yang cerdas menjadikan kehidupannya bukan hanya sebagai sarana menghadapi dan mempersiapkan kematian, namun menjemput kematian melalui seni kematian. Paradigma seni kematian memang masih aneh dalam fikiran masyarakat saat ini. Kematian hanyalah kematian. Bagaimana mungkin sesuatu yang nafsu membenci bertemu dengannya menjadi sesuatu yang jiwa bergairah berjumpa dengannya? Inilah salah satu ajaran Islam yang agung, mengatur dari hal-hal kecil kehidupan sampai bagaimana menjemput kematian dalam koridor-Nya.

Dalam kehidupan ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengaruniakan kepada sebagian orang, nikmat yang banyak, malah kadang-kadang sampai melimpah ruah. Nikmat itu adakalanya berupa kesehatan, kekayaan, kemampuan dan lain-lain. Sebagai tanda syukur terhadap nikmat-nikmat yang tak terhingga jumlahnya itu, sudah sewajarnyalah jika manusia mempergunakannya untuk perbuatan-perbuatan kebajikan.

Dalam Al-Qur'an banyak sekali dijumpai ayat-ayat yang mendorong supaya mengerjakan kebajikan, salah satu diantaranya Surat Al-Baqarah ayat 148, “Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam membuat) kebaikan. Dimana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesunguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”. Akan tetapi, dalam kenyataannya banyak orang yang memperoleh nikmat atau kelebihan itu justru dipergunakan untuk perbuatan-perbuatan kejahatan. Betapa banyak orang-orang kaya yang memprgunakan nikmat yang dikaruniakan kepadanya untuk melampiaskan hawa nafsunya. Ada juga orang-orang yang berkuasa untuk menumpuk kejahatannya atau sekurang-kurangnya memberi kesempatan untuk mendorong dan mengembangkan kejahatannya, padahal dia berwenang untuk mencegahnya.

Hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Sahal bin Sa'ad menyatakan, "Kebajikan itu adalah laksana suatu perbendaharaan. Tiap-tiap perbendaharaan mempunyai anak kunci. Berbahagialah manusia yang diberikan Allah Subhanahu wa Ta’ala anak kunci pembuka kebajikan dan pengunci bagi kejahatan. Celakalah manusia yang memegang anak kunci pembuka kejahatan dan pengunci (penutup) kebaikan". Marilah kita berlomba-lomba mengejar kebajikan (fastabiqul khairot). Dan dalam mengejar kebajikan itu bukanlah terbatas mengenai masalah ibadah dan amal sholeh saja, akan tetapi semua perbuatan, sikap dan tindakan yang baik atau mendatangkan kebaikan kepada orang lain atau masyarakat.

Dalam hubungan ini, Sayid Sabiq dalam bukunya "Islamuna" merinci perbuatan kebajikan adalah taat kepada Allah, membiasakan pekerjaan-pekerjaan yang berfaedah, berlaku ikhlas, berniat baik, melakukan kebaikan terhadap keluarga, mengeluarkan perkataan yang baik-baik, pendeknya tiap-tiap perbuatan yang menguntungkan kepada orang lain dan masyarakat.

Wallahu’alam Bishowab.

YA HABIBI

kudoakan untukmu.. entah dimana.??


Ya Allah,
segala puji hanyalah milikMu. Semoga rahmat dan salam selalu tercurahkan kepada baginda Rasul Muhammad Sallahu alaihi wasallam.

Ya `Azizu ya Rohman,
janganlah Engkau jadikan hati kami condong
kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan
karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau.

Ya Robbana,
Engkau telah menjadikan laki-laki dan perempuan sebagai
pasangan, pria dan wanita sebagai saudara kandung, suami dan isteri
sebagai sahabat tempat meraih sakinah, mawaddah dan rahmah.
Karenanya, janganlah engkau tanamkan sikap saling menyaingi dalam
dada kami, ya, Rabb. Andai kadangkala hati kami mendengar bisikan
setan untuk menjadikan laki-laki sebagai lawan kami, perempuan
sebagai saingan kami, ampunilah kami, ya, Allah. Sebenarnya kami
tidak menghendaki itu. Jadikanlah kami sebagai teman perjuangan
suami kami, tetapkanlah kami sebagai sahabat isteri kami, jadikanlah
kami sebagai sayap kiri dan kanan perjuangan ini, ya, ilahi.

Ya Allah,
Engkau tahu bahwa kami sungguh ingin menjadi isteri
shalihah yang berbakti pada suami, ibu pembina umat, pencetak anak-
anak shalih-shalihah, dan wanita pejuang yang bersama kaum Adam
menegakkan Islam.

Ya Rabb,
Engkau tahu bahwa kami rindu menjadi suami shalih. Kami
pun rindu memiliki isteri shalihah. Kabulkanlah, wahai, Zat Maha
pemberi.

Duhai Zat Maha Pengasih,
Engkau Maha Tahu, mungkin nanti kami memang terkadang lelah. Tapi, kami rela keringat bercucuran, peluh
membasahi sekujur tubuh, kelelahan tak kami pedulikan, capek hampir-
hampir tak pernah kami pikirkan, kelelahan sepanjang siang dan malam
pun kami pandang sebagai pengorbanan dalam perjuangan. Mengapa?
Sebab, yang terbayang di mata dan hati kami adalah terwujudnya
keluarga sakinah, anak-shalih dan generasi yang cerdas bertakwa,
para suami yang tersenyum gembira, para isteri yang riang penuh suka
cita; dan umat yang bahagia melihat kami sebagai keluarga shalih
milik mereka. Dan kami pun tetap tersenyum bahagia. Itulah cita-
cita kami, ya, Robbana. Dan dengan itu kami mengharap keridloan-Mu
tercurah pada kami. Curahkanlah ridlo-Mu, ya, ilahi.

Kami sangat mencintai anak-anak kami. Engkau tahu ucapan kami pada
mereka, belaian kami bagi mereka, senyuman kami untuk mereka, bahkan larangan kami dan terkadang sedikit sikap `keras' kami kepada
mereka, semuanya hanyalah wujud cinta kami untuk buah hati kami itu,
ya Allah.

Kami juga sangat ingin mencintai suami kami, ya, Rabb. Kami sungguh
mencintai isteri kami, ya, ilahi. Kami ingin berjuang bersama,
berbagi duka bersama. Kami ingin masuk sorga bersama-sama, ya,
Allah. Mungkin suami kami bukanlah suami yang terbaik, tapi dia
adalah panutan kami, ya, 'Aziz. Mungkin isteri kami banyak
kekurangannya, tapi dia buah hati kami, ya, Halim. Sungguh, kami
mencintainya, ya, Allah. Hanya, memang, kadangkala egoisme kamilah
yang merampas keharmonisan kami.

Ya Habibi,
tumbuhkanlah cinta kasih diantara kami. Satukanlah kami
seperti engkau menyatukan Adam dengan Hawa, Ibrahim dengan Sarah, Yusuf dengan zulaikha, Rasulullah Muhammad dengan ibunda Khadijah.

Tumbuhkanlah dan tingkatkanlah keharmonisan keluarga kami, duhai
ilahi. Panggillah kami kelak di akhirat dengan panggilan: "masuklah
kalian dan isteri kalian kedalam sorga! Disana kalian digembirakan."

Ya hayyu ya qoyyum,
kokohkanlah langkah kaki kami dalam menjalankan dan menegakkan syariat-Mu. Hanya aturan-mu-lah yang akan mendatangkan keharmonisan keluarga kami. Karenanya, kobarkanlah semangat iman dalam jiwa kami, nyalakanlah amal pada diri kami, dan kuatkanlah tekad dalam jiwa kami.

Kami yakin, ya Allah, Engkau akan menolong kami. Kami percaya
Engkau akan membangkitkan kaum mukminat dan umat Islam keseluruhan.
Kami yakin, Engkau sayang pada kami.

Engkau tahu, sungguh kami telah beriman kepada-Mu, maka turunkanlah rahmat, anugerah, dan pertolongan-Mu. Engkaupun tahu, betapa banyak dosa yang kami lakukan. Ampunilah kami, ya, Allah. Memang, kami malu, karena sebenarnya semua itu tidak pantas bagi kami. Tapi, kami yakin Engkau Maha Pemurah pada hamba-Nya yang berserah diri. Karenanya, kabulkanlah permohonan kami, Wahai Zat Maha Perkasa.

Rabbana atina fiddunya hasanah wafil'akhiroti hasanah waqina adza bannar, aamiin aamiin aamiin ya robbal'alamiin.

Wallahu a’lam.

Sebesar Apa Bumi yg Kita Tempati.?

Bismillahirrahmaanirrahiim,,,

Rasanya Bumi yang kelilingnya 40.000 km ini sangat besar bagi kita.
Untuk pergi ke Amerika atau Afrika saja jauh sekali. Apalagi jika sampai harus ke Antartika.

Tapi coba kita lihat besar Bumi kita dengan ciptaan Allah lainnya.
Ternyata tidak ada apa-apanya.
Bahkan bintang yang terbesar pun hanya satu titik dibanding Galaksi, Cluster, Super Cluster, Jagad Raya.

Tapi di atas semua itu kita harus yakin bahwa Alloh pencipta Semesta Alam itu.
Alloh Maha Besar.. ALLAHU AKBAR.!


Mari kita sejenak renungkan ................

(1) Ukuran Bumi dibanding Planet Jupiter

BUMI vs JUPITER


(2) Ukuran Bumi dibanding Matahari
Ukuran Bumi dibanding Matahari.
Diameter (lebar) matahari 1.391.980 km.
Jika bumi “dimasukkan” ke matahari, ada 1,3 juta bumi yang bisa masuk. Subhanallah.!

 BUMI vs MATAHARI


(3) Ukuran Matahari dibanding Bintang Arcturus

MATAHARI vs ARCTURUS


(4) Ukuran Matahari dibanding Bintang Antares
Saat ini bumi sudah tidak bisa dilihat lagi. Diameter Antares 804.672.000 km. Subhanallah

MATAHARI vs ANTARES


(5) Ukuran Bintang-bintang dibanding Galaksi Bimasakti
Kalau anda menganggap Antares sudah sangat besar, ternyata bintang itu masih belum apa-apa dibanding dengan galaksi seperti Galaksi Bimasakti yang terdiri dari ratusan milyar bintang dengan lebar hingga 100 ribu tahun cahaya (1 detik cahaya=300.000 km). Subhanallah..

BINTANG vs GALAKSI BIMASAKTI


(6) Ukuran Galaksi Bimasakti dibandingkan Cluster
Galaksi itu pun tidak seberapa jika dibanding dengan Cluster (Kumpulan) Galaksi yang terdiri dari ribuan Galaksi. Subhanallah ..

GALAKSI vs CLUSTER


(7) Ukuran Cluster di antara ribuan Cluster, kemudian ribuan Super Cluster, dst.... Allahu'alam, membentuk JAGAD RAYA.
Tapi di atas Cluster masih ada Super Cluster yang terdiri dari ribuan Cluster. Ribuan Super Cluster akhirnya membentuk jagad raya.

SUPER CLUSTER vs JAGAD RAYA


Saat ini diperkirakan Jagad Raya (Universe) lebarnya 30 milyar tahun cahaya.
Tapi ini cuma angka sementara mengingat teleskop tercanggih saat ini “cuma” bisa mencapai jarak 15 milyar tahun cahaya!

Jika dunia ini begitu luas, maka Allah menegaskan bahwa akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.
Jauh lebih luas lagi dari dunia.!

“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” [Al Baqarah 255]

Maha Besar Allah ‘azza wa jalla,, ROBB Pencipta Alam semesta.!
SUBHANALLAH
ALLAHU'AKBAR


Masih mau menyombongkan diri dihadapan Pencipta....????!!!!!
ASTAGHFIRULLAH AL ADZIM

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan tidaklah Aku ciptakan seluruh jin dan seluruh manusia melainkan untuk beribadah kepadaKu“.
(QS : Adz Dzariyat [51] :56).