Hai selamat bahagia di 5 Desember tahun ini.
Dan pada akhirnya waktu yang menjawab
semua teka-teki hati dan sudah bisa kutebak kamu yang akan memenangi permainan
ini, rekaan ku sama sekali tidak meleset. Tepat sasaran. Aku memang bukan
seorang mentalis yang bisa membaca pikiran seseorang tapi untuk kamu aku bisa
memprediksi dengan benar, hebat bukan?
Aku akui kamu menang. Aku kalah.
Selamat dengan tulus aku ucapkan kepadamu, semoga kamu bahagia dengan yang
bukan aku, semoga kamu mendapatkan yang kamu mau. Semoga. Memang hati ini masih
belum rela tapi aku hanya berusaha setidaknya di depanmu aku sudah
mengikhlaskan, menggunakan topeng bahagia memang sudah jadi hobi wantia bukan?
Aku ingin mengaku meski tidak di
depanmu. Perasaan ini masih jadi bumerang, menyerang tanpa arah, menyakiti
seisi diri tidak peduli jika sudah tak tahan lagi. Perih.
Dan kenapa kamu pilih dia? Aku memang
tidak tahu apa yang dipikiranmu sampai kamu menunjuk dia jadi ratu dalam hati,
dulu kamu pernah bilang kamu tahu dia tidak tulus sampai dia meninggalkamu
dan sekarang kamu tarik omonganmu seenak jidat malah memeluk erat dia yang
dulu membuang kamu dan membuatmu muak lalu itu namanya apa kalau bukan
munafik? Jika diizinkan aku ingin memukul tepat di wajahmu, aku geram dengan
sikapmu. Kamu itu laki-laki kok kelakuan kaya banci? Hari ini bilang A, besok
bilang B. Hari ini bilang gak suka, besok memaksa untuk diterima.
Dia yang sekarang kamu puja, yang kamu
agungkan namanya dan memperlakukannya seperti putri, apa kamu lupa dia juga
orang yang sama yang dulu mencaci maki dan berteriak bahwa sudah tak butuh kamu
lagi? Lupa? Apa kamu tidak takut dia akan melakukan apa yang sudah pernah
dilakukannya? Oh mungkin kamu pikir itu suatu tantangan kembali pada mantan
yang hampir pernah kamu l*d**i. Hebat. Menakjubkan.
Jika kamu berpikir aku hanya iri
terhadap dia yang kamu pilih itu setengah benar dan sisanya hanya kepura-puraan
bahwa itu salah. Tentu saja aku menerka-nerka apa alasan kamu merekrut dia jadi
pengisi seluruh hati, mempercayai jika dia bisa membuat bahagia setiap kaki
melangkah pergi, menghibur tiap peluh yang dilelahkan diri, jelaskan padaku
mengapa aku bisa kalah dari dia yang bermodal wajah yang rupawan? Jika kamu
mencintai seseorang karena tampang, bagaimana mungkin kamu mencintai Tuhan yang
tak berupa? Memang aku tidak modis, aku tidak bisa mix and match apa
yang harus aku pasang pada diri, tidak seperti pilihanmu yang saat ini eksis dimana-mana, karena diriku hanya
kesederhanaan yang nyata bukan suatu keistimewaan yang pura-pura.
Apa aku sudah tidak ada kesempatan? Dan
kamu tidak akan memberikannya? Bisakah kita? Ah sudahlah mungkin lelaki
sepertimu memang pantas dapat dia yang sepertinya lebih parah dari aku.
Haruskah aku berdoa tentang bahagiamu? Sepertinya aku sudah harus berhenti,
semoga dia bisa mendoakanmu meski dalam diam, dalam bisu, nanti.
Dan aku bertanya kapan waktu akan
berpaling padaku, membuat aku tertawa bahagia tanpa topeng yang setiap hari
semakin mengenaskan.
Sejatinya sesuatu yang indah memang lama datangnya, diukur dari kesabaran tiap jiwa yang memintanya.
Sejatinya sesuatu yang indah memang lama datangnya, diukur dari kesabaran tiap jiwa yang memintanya.
Mengikhlaskan memang jauh lebih sulit dari melepaskan.
Melihat dia dengan yang tidak lebih baik darimu,
bukan alasan untuk tertawa,
kasihanilah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar