Lama…. Sudah lama. Aku bertahan, membiarkanmu singgah dalam
singgasana hati ini. Membiarkanmu menyibukkan kerja di pikiran otak ini. Itu
sudah berlangsung cukup lama, bukan cukup lama tapi memang lama, kupikir aku
memang tidak menuliskan kata lelah untuk mencintaimu dalam kamus hidupku
untukmu, tapi sekarang aku akan menuliskannya dalam kamus yang hanya aku
tujukan untukmu, jika aku memang lelah untuk mencintaimu dengan cinta yang tak
terbalas.
Cukup perih memang
rasanya melupakanmu, berusaha menghapus namamu dari pikiranku, menghapus
bayanganmu dalam lamunanku, inikah rasanya cinta bertepuk sebelah tangan?
Sakit, perih, kecewa. Mungkin lebih dari itu. Apa kau tahu rasanya di acuhkan?
Tidak dianggap? Tidak di butuhkan? Aku capek merasa tidak di inginkan kehadiranku
di hidupmu. Aku juga punya batas kesabaran, jangan mempermainkan perasaanku
walau kau pikir aku sudah kebal dengan perlakuanmu.
Jleb mungkin kata yang pas saat melihat percakapan dalam akunmu, nyesek mungkin iya. Aku baru sadar kalau
aku hanya diberi harapan kosong olehmu, tak ada cinta atau kasih sayang
sedikitpun, apa aku yang terlalu bodoh menganggap semua tulisan-tulisanmu yang
kurang dari seratus empat puluh karakter itu hanya sebuah
becandaan? Aku melihat kamu
bermain reply dengan dia, sosok yang kurang aku ketahui sebelumnya.
Mungkin menyenangkan ya jadi dia, menerima semua perhatianmu. Bahagia
juga menjadi alumnimu atau mungkin mantan calon gebetanmu itu yang selalu kau
rindukan,,,,iya rindu…rindu yang ku tahu itu lebih dari sekedar kangen. Beruntung dia yang di pilih olehmu, tidak seperti aku
yang mencintaimu dalam diam, dan aku yang bukan siapa-siapa di banding
dengannya.
Aku disini
berusaha ikhlas, tapi bolehkah aku menerima sedikit rindu darimu? Bolehkah aku menikmati senyummu walau hanya
dalam jauh? Bolehkan aku memelukmu walau hanya dalam mimpi? Sejujurnya, aku
ingin tertawa denganmu, bahagia dan aku ingin sekali memiliki senyummu.
Aku tak perlu
memberitahumu tentang seberapa rasa sukaku padamu, rasa ingin memilikimu setiap
hari, rasa merindukanmu dalam tiap hembus nafasku, apalagi membutuhkanmu,
membutuhkanmu itu tentu saja iya karena aku bukan siapa-siapa tanpamu.
Tapi kali ini aku
menyerah, karena seberapa besar rasaku padamu, di matamu aku semu, bagaimana
mungkin jika aku terus bertahan mencintaimu tanpa balasan, melihatmu memberikan
cinta yang lebih untuknya, untuk gadis yang aku tidak
tahu-lebih-kurangnya-dariku.
Biarkan aku
bermimpi seolah pemimpi yang tinggi. Biarkan aku berkhayal seolah pengkhayal
yang hebat. Itu semua agar aku bisa merasakan bagaimana di cintai olehmu walau
hanya dalam ruang mimpi dan khayalku. Itu saja. Tidak lebih. Iya aku tahu
khayal dan mimpi itu hanya dalam angan, bukan dalam kenyataan, aku tahu pada
akhirnya aku juga yang sakit, aku juga yang menangis tapi apa boleh buat, jika
hanya dalam mimpi dan khayal aku bisa merasa bahagia.
Haruskah aku
menunggu dan seterusnya? Menanti dirimu entah sampai kapan, tanpa kata lelah?
Jika dengan setia denganmu aku mendapatkan segenggam pahala, entah bahagianya
hidupku dalam surga Tuhanku. Tapi nyatanya tidak, aku tidak bisa menunggumu
lebih lama tanpa ada kepastian. Tanpa ada perhatian.
Lelah akhirnya.
Aku lelah jika aku hanya mendapatkan sikap acuh-tak acuh darimu. Aku lelah jika
terus memberikan cintaku dan tak di gubris sama sekali olehmu. Kerinduan
mungkin akan merajalela dalam diriku menjelma dengan setetes air mata, berharap
jika kau datang dan akan menghapusnya, andai saja.
Hanya ada rasa
rela-tak rela yang lemah.
Tak ada yang
tersisa, tak ada kata-kata yang menjelma kata sapa,
aku hanya bisa
menerima jika ini memang seharusnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar