Aku yakin ia tak akan membaca blog
saya ini….sebut saja pria itu bernama ##########, seorang pria yang 4 tahun lalu ku
kenal di jawa pos group. Kita bekerja disebuah perusahaan yang sama, hanya
mungkin berbeda bagian. Dia bekerja di bagian percetakan buku dan aku di bagian
printing packaging.
Dia
selalu menunggu saya ketika pulang n berangkat bekerja…ingat sekali pria itu
selalu menyapaku dan tersenyum penuh harapan. Akupun tau kau sedang bersaing
dengan kerabatmu untuk dapat sekedar berkenalan denganku…
Teringat juga kata2 Bpk. Arya
maulana (HRD Manager) “mut, teman2 kamu banyak yang pacaran n cinlok…kenapa
kamu ngga?? Apa ga ada yang selevel sama kamu??”.
Ya ampun pak kuliah n kerja aja udh
melelahkan, bpk kan tau klo saya kerja selalu disuruh lembur smp jam 18.00 n
masuk kuliah jam 18.30
Hari libur selalu saya gunakan untuk
bebenah rumah n mengerjakan tugas
kuliah, masa
saya harus pacaran juga. Nanti bakalan jadi beban juga pak klo selalu minta
ketemuan n jalan setiap hari libur, terlebih2 harus smsn n tlpn berbasa-basi
kasih kabar atau nanya hal ini itu. Itu menjengkelkan buat saya ditambah jika
dia posesif. Ga mau hal itu terjadi pak….yang datang silih berganti banyak
pak tapi ga pernah saya ijinkan buat singgah…hahahhai (ketawa licik)
Balik lagi ke judul….
Berawal dari facebook pria itu
menghubungi aku, dengan pedenya pria itu say hello n berkata “aku salah satu
penggemar kamu yang selalu memandang kamu dari kejauhan”. Bahkan dia hafal
betul setiap baju yang aku kenakan. Semua itu terlihat dari msg facebook yg pria itu kirim tiap mlm. Semua selalu berisi pujian yang selalu
aku acuhkan. Aku tau saat itu, pria itu sedang
menjalin hubungan dengan salah satu teman kerja n teman itu satu bagian juga
dengan aku.
Wahai pria penggemar, kau perlu tahu
bahwa kau yang selalu dibicarakan oleh temanku itu. Lantas aku harus berpura2
ga tau siapa kamu, jujur saja waktu itu aku memang belum tau yang mana pria
itu. Hanya menebak-nebak n itu ternyata benar.
Jelas saja aku mengabaikanmu, tapi
pria itu memang tak pernah menyerah. Bahkan aku juga harus menjadi saksi ketika
pria itu memutuskan temanku. Tepat setelah kita istirahat makan siang di rumah
makan bulek larti. Bahkan aku juga yang meminjamkan bahu ketika temanku itu menangis…
#miris
Seminggu setelah kejadian itu,
temanku pamit pulang kampung ke daerah ngawi n sebulan setelah itu temanku
mengabariku jika ia hendak menikah dengan pria yang ia kenal di ngawi. (Cepat sekali proses move onnya…)
Baiklah aku bahagia ketika teman
seperjuanganku itu bahagia dengan pilihannya. Balik lagi ke pria itu, entah
dari mana pria itu mendapatkan no hpku n menghubungiku setiap malam. Jujur saja
itu membuat saya risih…selalu menghubungi disaat yang tidak tepat.
Awal pertemuan kami terjadi ketika
ia menjenguk ke kostan aku. Waktu itu aku sakit ditempat kerja lalu diantar
pulang oleh mas imam. Disaat aku tertidur pulas lagi2 pria itu datang
menjengukku ditemani mas dewa setelah pulang kerja sekitar jam 16.00 wib. Jelas
saja aku menjadi diam tanpa kata, karna aku memang tak mengharapkan ini
terjadi. Hanya saja mas dewa yang selalu bertingkah konyol ngebully aku.
Semenjak kejadian itu sepertinya
penyakitku tak kunjung sembuh, hingga akhirnya aku harus dibawa ke rs mitra
timur oleh pria itu juga. Ketika tiba di rs mitra timur ternyata aku diharuskan
untuk ct scan n bertemu lagi dengan dokter ahli syaraf. Aku tahu jika ini
membutuhkan biaya yang tidak sedikit terlebih uang tabungan aku habis untuk
membeli laptop n isi kostan.
Pria itu menanggung semua biaya
rumah sakit bahkan sampai perawatan hingga aku sembuh. Semenjak itu kita jadi
semakin sering bertemu. Aku juga selalu nunggu kapan akhir bulan itu datang.
Berharap aku segera bisa melunasi hutang2 aku itu.
Akhir bulanpun tiba n gajian yang
kunanti juga sudah bisa dicairkan. Aku sadar gajiku sebulan yang cuma Rp. 2.000.000 itu juga belum cukup untuk
melunasi biaya pengobatanku. Aku meminta kepada pria itu agar bisa dicicil.
Dari gaji yang aku dapat aku masih perlu menyisihkan untuk biaya kuliah, bayar
kostan, kirim ke ibu n makan sehari-hari.
Sabtu jam 13.00 setelah aku pulang
kerja aku putuskan untuk menemui pria itu n pastinya menyicil hutang2ku juga.
Terkejut memang ketika pria itu menolak semua uang yang aku berikan, sampai2
negosiasi agar pria itu menerima uangkupun gagal aku lakukan. Saat itu juga
tiba2 aku teringat pesan ibu “hati2 mba jgn suka meminta atau menerima
pemberian laki2 yg belum pasti jadi calon imam kamu, suatu saat mreka akan
menuntut dirimu saat itu juga”.
Hari sudah sore n aku sudah lelah,
aku memang belum sembuh total. Aku berusaha minta no rekening mandiri yang pria
itu punya tapi tetap saja ga dikasih. Akhirnya aku putuskan saja untuk memberi
alamat rumahku n bilang “datang saja atau hubungi aku jika suatu saat butuh uangnya
cz ini bukan jumlah yang sedikit mas”.
to be continue>>

Tidak ada komentar:
Posting Komentar