Rabu, 21 Januari 2015

Lebih Dari Sekedar Penggemar Part 1



Aku yakin ia tak akan membaca blog saya ini….sebut saja pria itu bernama ##########, seorang pria yang 4 tahun lalu ku kenal di jawa pos group. Kita bekerja disebuah perusahaan yang sama, hanya mungkin berbeda bagian. Dia bekerja di bagian percetakan buku dan aku di bagian printing packaging.
Dia selalu menunggu saya ketika pulang n berangkat bekerja…ingat sekali pria itu selalu menyapaku dan tersenyum penuh harapan. Akupun tau kau sedang bersaing dengan kerabatmu untuk dapat sekedar berkenalan denganku…

Teringat juga kata2 Bpk. Arya maulana (HRD Manager) “mut, teman2 kamu banyak yang pacaran n cinlok…kenapa kamu ngga?? Apa ga ada yang selevel sama kamu??”.
Ya ampun pak kuliah n kerja aja udh melelahkan, bpk kan tau klo saya kerja selalu disuruh lembur smp jam 18.00 n masuk kuliah jam 18.30

Hari libur selalu saya gunakan untuk bebenah rumah n mengerjakan tugas kuliah, masa saya harus pacaran juga. Nanti bakalan jadi beban juga pak klo selalu minta ketemuan n jalan setiap hari libur, terlebih2 harus smsn n tlpn berbasa-basi kasih kabar atau nanya hal ini itu. Itu menjengkelkan buat saya ditambah jika dia posesif. Ga mau hal itu terjadi pak….yang datang silih berganti banyak pak tapi ga pernah saya ijinkan buat singgah…hahahhai (ketawa licik)
Balik lagi ke judul….

Berawal dari facebook pria itu menghubungi aku, dengan pedenya pria itu say hello n berkata “aku salah satu penggemar kamu yang selalu memandang kamu dari kejauhan”. Bahkan dia hafal betul setiap baju yang aku kenakan. Semua itu terlihat dari msg facebook yg pria itu kirim tiap mlm. Semua selalu berisi pujian yang selalu aku acuhkan. Aku tau saat itu, pria itu sedang menjalin hubungan dengan salah satu teman kerja n teman itu satu bagian juga dengan aku.
Wahai pria penggemar, kau perlu tahu bahwa kau yang selalu dibicarakan oleh temanku itu. Lantas aku harus berpura2 ga tau siapa kamu, jujur saja waktu itu aku memang belum tau yang mana pria itu. Hanya menebak-nebak n itu ternyata benar. 

Jelas saja aku mengabaikanmu, tapi pria itu memang tak pernah menyerah. Bahkan aku juga harus menjadi saksi ketika pria itu memutuskan temanku. Tepat setelah kita istirahat makan siang di rumah makan bulek larti. Bahkan aku juga yang meminjamkan bahu ketika temanku itu menangis… #miris 

Seminggu setelah kejadian itu, temanku pamit pulang kampung ke daerah ngawi n sebulan setelah itu temanku mengabariku jika ia hendak menikah dengan pria yang ia kenal di ngawi. (Cepat sekali proses move onnya…)
Baiklah aku bahagia ketika teman seperjuanganku itu bahagia dengan pilihannya. Balik lagi ke pria itu, entah dari mana pria itu mendapatkan no hpku n menghubungiku setiap malam. Jujur saja itu membuat saya risih…selalu menghubungi disaat yang tidak tepat.

Awal pertemuan kami terjadi ketika ia menjenguk ke kostan aku. Waktu itu aku sakit ditempat kerja lalu diantar pulang oleh mas imam. Disaat aku tertidur pulas lagi2 pria itu datang menjengukku ditemani mas dewa setelah pulang kerja sekitar jam 16.00 wib. Jelas saja aku menjadi diam tanpa kata, karna aku memang tak mengharapkan ini terjadi. Hanya saja mas dewa yang selalu bertingkah konyol ngebully aku. 

Semenjak kejadian itu sepertinya penyakitku tak kunjung sembuh, hingga akhirnya aku harus dibawa ke rs mitra timur oleh pria itu juga. Ketika tiba di rs mitra timur ternyata aku diharuskan untuk ct scan n bertemu lagi dengan dokter ahli syaraf. Aku tahu jika ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit terlebih uang tabungan aku habis untuk membeli laptop n isi kostan. 

Pria itu menanggung semua biaya rumah sakit bahkan sampai perawatan hingga aku sembuh. Semenjak itu kita jadi semakin sering bertemu. Aku juga selalu nunggu kapan akhir bulan itu datang. Berharap aku segera bisa melunasi hutang2 aku itu.

Akhir bulanpun tiba n gajian yang kunanti juga sudah bisa dicairkan. Aku sadar gajiku sebulan yang cuma Rp. 2.000.000  itu juga belum cukup untuk melunasi biaya pengobatanku. Aku meminta kepada pria itu agar bisa dicicil. Dari gaji yang aku dapat aku masih perlu menyisihkan untuk biaya kuliah, bayar kostan, kirim ke ibu n makan sehari-hari. 

Sabtu jam 13.00 setelah aku pulang kerja aku putuskan untuk menemui pria itu n pastinya menyicil hutang2ku juga. Terkejut memang ketika pria itu menolak semua uang yang aku berikan, sampai2 negosiasi agar pria itu menerima uangkupun gagal aku lakukan. Saat itu juga tiba2 aku teringat pesan ibu “hati2 mba jgn suka meminta atau menerima pemberian laki2 yg belum pasti jadi calon imam kamu, suatu saat mreka akan menuntut dirimu saat itu juga”.

Hari sudah sore n aku sudah lelah, aku memang belum sembuh total. Aku berusaha minta no rekening mandiri yang pria itu punya tapi tetap saja ga dikasih. Akhirnya aku putuskan saja untuk memberi alamat rumahku n bilang “datang saja atau hubungi aku jika suatu saat butuh uangnya cz ini bukan jumlah yang sedikit mas”

to be continue>>

Tidak ada komentar:

Posting Komentar