Aku selalu ada menantimu,berusaha menunggu setiap jawaban yang sengaja ku
rangkai untukmu,berharap ada sedikit waktu yang kau luangkan untukku. Di
sela-sela kesibukanku selalu ku tancapkan niat dan rasa yang kokoh dalam diri
ini,bahwa aku menanam namamu sedalam mungkin di jiwaku. Disaat aku lupa dengan
tawa maka muncul namamu yang menjerit sakit dalam hati ini,bahwa kau tak mampu
melihatku sendiri sendu… hal yang aku rasakan saat ini adalah kau berada di
sampingku,kau adalah penopang tangisku disaat aku sendiri,kau yang sedang
membisikan kata-kata humoris yang membuatku tersenyum… tapi aku tahu,semuanya
hanyalah bayangmu,halusinasiku tentangmu yang tak bisa ku sentuh dan ku
raba,yang tak bisa ku tatap dalam kedamaian. Tapi kini semuanya telah menjadi
cela,dulu kau yang ku banggakan kini malah menjadi sebuah kekecewaan yang ku
pendam dalam hati.
Rasanya konyol mempercayai kembali setiap janjimu,janji yang ujung-ujungnya
hanyalah sebuah kecewa,sebuah tangis dan luka. Apakah kau pernah sadari berapa
lama aku menunggumu,hanya menunggu balasan pesan singkat darimu. Bagiku waktu
ini tetap pagi meski jam terus berputar hingga datang senja dan gelap…rasanya
tak kurasakan adanya malam saat menunggumu,tak pernah ku rasakan tubuh ini
lelah ataupun mata ini butuh untuk terpejam. Menantimu bagaikan waktu yang
tiada habisnya,ku hamburkan waktu hanya demi dirimu,tak ada tugas yang harus ku
lakukan selain menunggumu,menunggumu mengabariku… kau tahu? Cukup banyak waktu
yang ku luangkan untukmu…
Aku telah tertidur panjang dalam fatamorgana ketika menunggumu,seribu detik
tak pernah berakhir,lintasan air mata sering menggores perih pipi ini,sepanjang
malam aku menunggumu. Kini kamu seperti hal yang mustahil untuk ku raba
kembali,kau yang jauh denganku tak pernah ada waktu dan tak pernah ingin tahu
bagaimana aku… mungkin dalam sepi,dalam sepi kau akan tahu bagaimana rasanya
merasa sendiri tanpa aku. Kamu seperti lukisan,sangat indah,tapi sayangnya
hanya bisa di pandang,tak bisa ku sentuh dan ku raba,tak bisa ku ajak kau pergi
jauh dari kerumunan orang-orang… hanya berharap untuk memegang
lenganmu,kemudian memelukmu dengan mesra,mengucapkan kata sayang dan berjanji
bahwa kita selamanya akan satu.
Kini aku mengerti,terhitung dari mulai detik ini aku mencintaimu dalam
diam,aku menyayangimu dalam sepi aku bahagia jauh darimu dalam dusta. Ingin
rasanya aku kembali seperti dulu,ketika mencintaimu tanpa ragu,mencintaimu
dengan sentuhan dan kata-kata,tapi rasanya mustahil…mungkin kini kamu sedang
tertidur nyenyak tanpa namaku di hatimu lagi,tanpa berharap memelukku lagi
dalam mimpimu,tanpa berharap lebih dekat satu jengkal denganku atau tanpa
berharap menatap tajam mataku dalam kedekatan satu jari. Masihkah ada namaku di hatimu? Masihkah kamu tanam rasa sayangmu yang dulu
untukku?
Jika cinta kita memang tak dapat terpisahkan,hanya satu pintaku Tuhan…
kembalikan dia yang ku mau,kembalikan pria yang sering ku tangisi dalam do’aku
dan selalu ku panggil namanya…
Yakini saja bahwa hujan dan angin yang berhembus mesra itu adalah pesan do’aku untukmu,bahwa setiap hujan yang menetes satu demi persatu adalah air mata rinduku untukmu,rinduku memilikimu kembali. Percayakan saja bahwa cintaku pasti masih terasa deras mengalir dalam tubuhmu,karena kamu tahu itu…bahwa akulah perempuan di tengah jalan kemarin yang menunggumu setia,yang menunggumu hingga senja,yang menunggumu hingga gelap,yang menunggumu hingga lumpuh rasa malunya. Ketahuilah… aku telah mati rasa dengan segalanya,aku lupa bagaimana rasanya bahagia, aku lupa bagaimana kita bisa merangkai hari yang indah bersama,hingga ku tulis dalam sebuah dairy kecil yang kini telah ku bakar habis sampai menjadi abu.
Yakini saja bahwa hujan dan angin yang berhembus mesra itu adalah pesan do’aku untukmu,bahwa setiap hujan yang menetes satu demi persatu adalah air mata rinduku untukmu,rinduku memilikimu kembali. Percayakan saja bahwa cintaku pasti masih terasa deras mengalir dalam tubuhmu,karena kamu tahu itu…bahwa akulah perempuan di tengah jalan kemarin yang menunggumu setia,yang menunggumu hingga senja,yang menunggumu hingga gelap,yang menunggumu hingga lumpuh rasa malunya. Ketahuilah… aku telah mati rasa dengan segalanya,aku lupa bagaimana rasanya bahagia, aku lupa bagaimana kita bisa merangkai hari yang indah bersama,hingga ku tulis dalam sebuah dairy kecil yang kini telah ku bakar habis sampai menjadi abu.
Tuhan…bagaimana kini melengkapi sela-sela jariku yang masi kosong? Dengan
siapa dan bagaimana lagi? Harus di pundak siapa kini aku bersembunyi menutupi
tangisku nanti? Berapa jengkal pintu hatinya yang tertutup untukku? Apa dia
masih
membukanya lebar,atau menutupnya rapat-rapat?
Di dahi dan pipi ini aku masih mengawetkan sentuhan bibirmu yang tergoreskan secara sengaja,aku masih mencium bau sentuhanmu ketika ku hisap dalam-dalam telapak tanganku ini,masih banyak aroma dan sentuhan-sentuhanmu yang membekas padaku. Bagaimana aku bisa melupakannya?
Di dahi dan pipi ini aku masih mengawetkan sentuhan bibirmu yang tergoreskan secara sengaja,aku masih mencium bau sentuhanmu ketika ku hisap dalam-dalam telapak tanganku ini,masih banyak aroma dan sentuhan-sentuhanmu yang membekas padaku. Bagaimana aku bisa melupakannya?
Entah bagaimana! Kamu seperti angin…selalu muncul dan menghilang tiba-tiba
dalam fikiranku,kamu seperti obat heroin yang membuatku terus kecanduan untuk
bersamamu,menggali cinta lebih dalam lagi dan terus menghisap rasa sayangnya
sampai mati. Aku tak butuh pisau atau dokter untuk membedah hatimu,cukup dengan
menatapmu… aku tahu dari sorot matamu dimana kau simpan posisiku,dimana kau
simpan namaku dan sampai dimana cinta kita akan berlabuh.
Cinta… sebuah fatamorgana yang tidak akan ada habisnya,sebuah ilusi yang
selalu berkembang terus menerus,sebuah konsekuensi yang harus di terima apapun
itu akhirnya. Terkadang berat meninggalkan cinta dengan sejuta sayangnya
itu,tapi… Tuhan tahu,jika dia milikmu itu hanyalah sebuah kebahagian yang
tertunda. Suatu saat nanti Tuhan akan memberikan dia dengan segalanya,dia akan
datang memberikanmu tawa dan bahagia,menyuguhkan segala rasa sayang dan
cintanya melebihi rasa sayang kita dulu untuknya.
Aku mengenalmu satu bulan,kemudian kau mengakhiri semuanya dengan cepat,hanya
dengan sekedip mata dengan mudahnya kau ucapkan berakhir. Kau harus tahu,berapa
dalam aku mampu mengendalikan emosiku saat terhentak mendengar kau mengatakan
kata-kata yang paling menjijikan dalam hidupku itu.
Atas semua akhir dari cerita cinta kita ini kau menjadikan aku sebagai
manusia yang berengsek! Kau tahu? Aku terlalu naïf jika aku baik-baik saja,aku
terlalu naïf jika aku bisa tanpamu,aku terlalu naïf jika aku masih bisa bersabar.
Kesunyian…hadirlah…aku ingin mengenang tawa dan bisikan-bisikan manjanya
itu lagi tanpa ada siapapun yang tahu,aku ingin menutup mata dari kerumunan
orang-orang banyak itu,yang selalu menakutiku dan membuatku teringat akan
masalalu. Mereka selalu tak sengaja membuatku mengucapkan namanya,yang
membuatku kembali teringat dan ingin mati.
Saat kau pergi…namamu rasanya seperti pisau belati yang sedang mengiris-ngiris
luka lebih dalam ,dalam hatiku ini… Ibaratkan pisau yang runcing yang sedang
menusuk-nusuk hati ini.
kamu pergi terlalu cepat,sangat cepat dari perkiraanku… kamu pergi disaat aku benar-benar merindukanmu,rindu yang amat hebat… kamu pergi di saat aku membutuhkanmu untuk mengapus darah yang terus mengalir akibat penyakitku ini,kamu pergi dengan kata pamit yang begitu singkat dan membuatku mati tiba-tiba.
kamu pergi terlalu cepat,sangat cepat dari perkiraanku… kamu pergi disaat aku benar-benar merindukanmu,rindu yang amat hebat… kamu pergi di saat aku membutuhkanmu untuk mengapus darah yang terus mengalir akibat penyakitku ini,kamu pergi dengan kata pamit yang begitu singkat dan membuatku mati tiba-tiba.
Tuhan… aku menyayanginya,aku sangat menyayanginya melebihi diriku
sendiri,aku tahu bagaimana kini membahagiakannya,berikan aku kesempatan kedua
untuk meraihnya kembali,untuk menguras rasa tak yakinnya itu dan menggali rasa
sayangnya untukku…
Aku memang tak seindah mentari yang selalu menerangimu dalam kegelapan,aku
memang bukanlah bulan atau bintang yang indah selalu bersinar terang menemani
setiap tidurmu,aku bukanlah langit senja yang elok dan elegant,aku bukanlah
Tuhan yang selalu sempurna,tapi aku hanya ingin menjadi kelinci madumu yang
terus ada di saat suka dan dukamu,menjadikan hal yang tak sempurna menjadi
sempurna. Aku titip tanda hati pada bintang-bintang yang bertaburan malam
ini,melingkar di atas rumahmu dan di tengahnya terisi penuh oleh rembulan malam
yang elok. Aku berharap kau hadir lewat mimpiku,mengukir namaku kembali di
hatimu dan melantunkan simfoni-simfoni indah dalam cinta kita,mewarnai setiap
awan kelam bersama warna-warna terang,aku berharap kau dengar setiap lantunan
do’aku yang kutitipkan lewat Tuhan,semoga kau rasakan rasa yang sama seperti
rasaku kini padamu.
Tuhan…ulang kembali masa-masa di mana kita masih bersama…
jadikan setiap mimpi indahku bersamanya menjadi sebuah kenyataan….
jaga dia dimanapun dia berada…
aku menanti setiap jawabanmu ini,aku hanya berharap dalam waktu tak lama ini aku dan dia bisa kembali bersama,melengkapi sela-sela jari ini yang masih kosong,bergandeng tangan dan menggores kisah cinta lebih indah…
jadikan setiap mimpi indahku bersamanya menjadi sebuah kenyataan….
jaga dia dimanapun dia berada…
aku menanti setiap jawabanmu ini,aku hanya berharap dalam waktu tak lama ini aku dan dia bisa kembali bersama,melengkapi sela-sela jari ini yang masih kosong,bergandeng tangan dan menggores kisah cinta lebih indah…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar