Jumat, 07 November 2014

mungkin....



Aku selalu ada menantimu,berusaha menunggu setiap jawaban yang sengaja ku rangkai untukmu,berharap ada sedikit waktu yang kau luangkan untukku. Di sela-sela kesibukanku selalu ku tancapkan niat dan rasa yang kokoh dalam diri ini,bahwa aku menanam namamu sedalam mungkin di jiwaku. Disaat aku lupa dengan tawa maka muncul namamu yang menjerit sakit dalam hati ini,bahwa kau tak mampu melihatku sendiri sendu… hal yang aku rasakan saat ini adalah kau berada di sampingku,kau adalah penopang tangisku disaat aku sendiri,kau yang sedang membisikan kata-kata humoris yang membuatku tersenyum… tapi aku tahu,semuanya hanyalah bayangmu,halusinasiku tentangmu yang tak bisa ku sentuh dan ku raba,yang tak bisa ku tatap dalam kedamaian. Tapi kini semuanya telah menjadi cela,dulu kau yang ku banggakan kini malah menjadi sebuah kekecewaan yang ku pendam dalam hati.

Rasanya konyol mempercayai kembali setiap janjimu,janji yang ujung-ujungnya hanyalah sebuah kecewa,sebuah tangis dan luka. Apakah kau pernah sadari berapa lama aku menunggumu,hanya menunggu balasan pesan singkat darimu. Bagiku waktu ini tetap pagi meski jam terus berputar hingga datang senja dan gelap…rasanya tak kurasakan adanya malam saat menunggumu,tak pernah ku rasakan tubuh ini lelah ataupun mata ini butuh untuk terpejam. Menantimu bagaikan waktu yang tiada habisnya,ku hamburkan waktu hanya demi dirimu,tak ada tugas yang harus ku lakukan selain menunggumu,menunggumu mengabariku… kau tahu? Cukup banyak waktu yang ku luangkan untukmu…

Aku telah tertidur panjang dalam fatamorgana ketika menunggumu,seribu detik tak pernah berakhir,lintasan air mata sering menggores perih pipi ini,sepanjang malam aku menunggumu. Kini kamu seperti hal yang mustahil untuk ku raba kembali,kau yang jauh denganku tak pernah ada waktu dan tak pernah ingin tahu bagaimana aku… mungkin dalam sepi,dalam sepi kau akan tahu bagaimana rasanya merasa sendiri tanpa aku. Kamu seperti lukisan,sangat indah,tapi sayangnya hanya bisa di pandang,tak bisa ku sentuh dan ku raba,tak bisa ku ajak kau pergi jauh dari kerumunan orang-orang… hanya berharap untuk memegang lenganmu,kemudian memelukmu dengan mesra,mengucapkan kata sayang dan berjanji bahwa kita selamanya akan satu.

Kini aku mengerti,terhitung dari mulai detik ini aku mencintaimu dalam diam,aku menyayangimu dalam sepi aku bahagia jauh darimu dalam dusta. Ingin rasanya aku kembali seperti dulu,ketika mencintaimu tanpa ragu,mencintaimu dengan sentuhan dan kata-kata,tapi rasanya mustahil…mungkin kini kamu sedang tertidur nyenyak tanpa namaku di hatimu lagi,tanpa berharap memelukku lagi dalam mimpimu,tanpa berharap lebih dekat satu jengkal denganku atau tanpa berharap menatap tajam mataku dalam kedekatan satu jari. Masihkah ada namaku di hatimu? Masihkah kamu tanam rasa sayangmu yang dulu untukku?

Jika cinta kita memang tak dapat terpisahkan,hanya satu pintaku Tuhan… kembalikan dia yang ku mau,kembalikan pria yang sering ku tangisi dalam do’aku dan selalu ku panggil namanya…

Yakini saja bahwa hujan dan angin yang berhembus mesra itu adalah pesan do’aku untukmu,bahwa setiap hujan yang menetes satu demi persatu adalah air mata rinduku untukmu,rinduku memilikimu kembali. Percayakan saja bahwa cintaku pasti masi
h terasa deras mengalir dalam tubuhmu,karena kamu tahu itu…bahwa akulah perempuan di tengah jalan kemarin yang menunggumu setia,yang menunggumu hingga senja,yang menunggumu hingga gelap,yang menunggumu hingga lumpuh rasa malunya. Ketahuilah… aku telah mati rasa dengan segalanya,aku lupa bagaimana rasanya bahagia, aku lupa bagaimana kita bisa merangkai hari yang indah bersama,hingga ku tulis dalam sebuah dairy kecil yang kini telah ku bakar habis sampai menjadi abu.

Tuhan…bagaimana kini melengkapi sela-sela jariku yang masi kosong? Dengan siapa dan bagaimana lagi? Harus di pundak siapa kini aku bersembunyi menutupi tangisku nanti? Berapa jengkal pintu hatinya yang tertutup untukku? Apa dia masih membukanya lebar,atau menutupnya rapat-rapat?
Di dahi dan pipi ini aku masi
h mengawetkan sentuhan bibirmu yang tergoreskan secara sengaja,aku masih mencium bau sentuhanmu ketika ku hisap dalam-dalam telapak tanganku ini,masih banyak aroma dan sentuhan-sentuhanmu yang membekas padaku. Bagaimana aku bisa melupakannya?

Entah bagaimana! Kamu seperti angin…selalu muncul dan menghilang tiba-tiba dalam fikiranku,kamu seperti obat heroin yang membuatku terus kecanduan untuk bersamamu,menggali cinta lebih dalam lagi dan terus menghisap rasa sayangnya sampai mati. Aku tak butuh pisau atau dokter untuk membedah hatimu,cukup dengan menatapmu… aku tahu dari sorot matamu dimana kau simpan posisiku,dimana kau simpan namaku dan sampai dimana cinta kita akan berlabuh.

Cinta… sebuah fatamorgana yang tidak akan ada habisnya,sebuah ilusi yang selalu berkembang terus menerus,sebuah konsekuensi yang harus di terima apapun itu akhirnya. Terkadang berat meninggalkan cinta dengan sejuta sayangnya itu,tapi… Tuhan tahu,jika dia milikmu itu hanyalah sebuah kebahagian yang tertunda. Suatu saat nanti Tuhan akan memberikan dia dengan segalanya,dia akan datang memberikanmu tawa dan bahagia,menyuguhkan segala rasa sayang dan cintanya melebihi rasa sayang kita dulu untuknya.
 
Aku mengenalmu satu bulan,kemudian kau mengakhiri semuanya dengan cepat,hanya dengan sekedip mata dengan mudahnya kau ucapkan berakhir. Kau harus tahu,berapa dalam aku mampu mengendalikan emosiku saat terhentak mendengar kau mengatakan kata-kata yang paling menjijikan dalam hidupku itu.

Atas semua akhir dari cerita cinta kita ini kau menjadikan aku sebagai manusia yang berengsek! Kau tahu? Aku terlalu naïf jika aku baik-baik saja,aku terlalu naïf jika aku bisa tanpamu,aku terlalu naïf jika aku masih bisa bersabar.
Kesunyian…hadirlah…aku ingin mengenang tawa dan bisikan-bisikan manjanya itu lagi tanpa ada siapapun yang tahu,aku ingin menutup mata dari kerumunan orang-orang banyak itu,yang selalu menakutiku dan membuatku teringat akan masalalu. Mereka selalu tak sengaja membuatku mengucapkan namanya,yang membuatku kembali teringat dan ingin mati.
 
Saat kau pergi…namamu rasanya seperti pisau belati yang sedang mengiris-ngiris luka lebih dalam ,dalam hatiku ini… Ibaratkan pisau yang runcing yang sedang menusuk-nusuk hati ini.
kamu pergi terlalu cepat,sangat cepat dari perkiraanku… kamu pergi disaat aku benar-benar merindukanmu,rindu yang amat hebat… kamu pergi di saat aku membutuhkanmu untuk mengapus darah yang terus mengalir akibat penyakitku ini,kamu pergi dengan kata pamit yang begitu singkat dan membuatku mati tiba-tiba.

Tuhan… aku menyayanginya,aku sangat menyayanginya melebihi diriku sendiri,aku tahu bagaimana kini membahagiakannya,berikan aku kesempatan kedua untuk meraihnya kembali,untuk menguras rasa tak yakinnya itu dan menggali rasa sayangnya untukku…
Aku memang tak seindah mentari yang selalu menerangimu dalam kegelapan,aku memang bukanlah bulan atau bintang yang indah selalu bersinar terang menemani setiap tidurmu,aku bukanlah langit senja yang elok dan elegant,aku bukanlah Tuhan yang selalu sempurna,tapi aku hanya ingin menjadi kelinci madumu yang terus ada di saat suka dan dukamu,menjadikan hal yang tak sempurna menjadi sempurna. Aku titip tanda hati pada bintang-bintang yang bertaburan malam ini,melingkar di atas rumahmu dan di tengahnya terisi penuh oleh rembulan malam yang elok. Aku berharap kau hadir lewat mimpiku,mengukir namaku kembali di hatimu dan melantunkan simfoni-simfoni indah dalam cinta kita,mewarnai setiap awan kelam bersama warna-warna terang,aku berharap kau dengar setiap lantunan do’aku yang kutitipkan lewat Tuhan,semoga kau rasakan rasa yang sama seperti rasaku kini padamu.

Tuhan…ulang kembali masa-masa di mana kita masih bersama…
jadikan setiap mimpi indahku bersamanya menjadi sebuah kenyataan….
jaga dia dimanapun dia berada…
aku menanti setiap jawabanmu ini,aku hanya berharap dalam waktu tak lama ini aku dan dia bisa kembali bersama,melengkapi sela-sela jari ini yang masi
h kosong,bergandeng tangan dan menggores kisah cinta lebih indah…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar